4.6.15

Stay

Bismillahirrahmanirrahiim...


Memiliki seseorang yang ‘tetap tinggal’ di sisi, disaat ‘kurang’ adalah berkah. Apalagi ketika ‘kurang’ itu menunjuk tepat ke arahmu. Memiliki seseorang yang memilih tetap bersama, dibanding mencari orang lain yang lebih sempurna adalah anugrah. Di tengah ketidakpastian itu, abang tetap bersama gw. Semua sulit jadi begitu worth it ketika berdua sampai diujung jalan dan melihat bersama “inilah peta utuhnya, dan kita telah melewati banyak…”

Tapi ada kalanya kita sangat tergiur dan berandai – andai memiliki yang belum dimiliki. Atau sibuk membandingkan yang kita punya, dengan kepunyaan orang lain. Sampai lupa bahwa yang sudah dimiliki jauh lebih berharga. Kalau fatamorgana macam ini sudah mulai muncul, berpeganglah yang erat pada kebaikan sang kekasih. Dia tidak hanya punya kekurangan saja kan? Sebutkan satu orang yang tidak punya kurang? Tidak ada. Jadi jangan pernah berhalusinasi melihat rumput hijau subur milik orang yang (mungkin) cuma rumput sintesis. Tidak ada rumput hijau subur yang gak pakai usaha disiram, bahkan diberi pupuk.

Lama sekali gw belajar. Setelah sampai disini, barulah kadang terpikir. Kalau ‘kurang’ itu bukan menunjuk ke gw, akankah gw tinggal? Punyakah gw keberanian untuk tinggal? Entah mengapa gw merasa, gw akan memilih pergi. Gw gak yakin punya jiwa yang cukup besar untuk tinggal.

Pemikiran macam itu membuat gw merasa harus sangat bersyukur. Bersyukur karena memiliki seseorang yang tinggal, padahal bisa pergi…

Tidak mudah menerima kekurangan seseorang, apalagi, itu adalah sesuatu yag sangat diimpikan. Tapi kalau gw menilik ke belakang, dan melihat bagaimana dia menyikapi kekurangan gw, gw selalu sadar, gw tidak salah memilih…


Share:

0 komentar: