7.6.15

Oh, I miss my man...

Bismillahirrahmanirrahiim...

Gw sedang di depan komputer ketika tiba - tiba, muncul lah screen saver yang isinya foto - foto gw dan Abang acak mulai dari kenal sampai hampir lima tahun menikah. "Oh, I miss my man..."  gw bergumam sambil merasakan tenggorokan yang sedikit tercekat.

Lima tahun, cukup lama untuk ukuran waktu, tapi rasanya lewat begitu saja secepat kilat. Gw ingat pernah ngobrol sama Abang.
Gw : "Hampir lima tahun ya, Bang? Udah lama juga ternyata kita nikah..."
Abang : "Belum lama..."
Gw : "Lumayan lama lah 5 tahun, tayang..."
Abang : "Belum lama, karna Abang pinginnya selamanya..."

Itu, believe it or not, adalah gombalan pertama Abang yang sukses. Hahaha! 

Gw sudah mulai terbiasa hidup dengan orang ini. Makanya, rasanya sulit sekali beberapa minggu ini tidak ada yang pelukan tidurnya sungguh mengganggu. Tidak ada aroma seduhan kopi buatan Abang pagi - pagi. Dan kalau diingat - ingat kami memang tidak pernah berjauhan lebih dari sebulan.

Hampir lima tahun dan gw rasa gw sudah cukup hapal mimik Abang. Mulai dari bahagia, senang, marah, kesel, menyembunyikan sesuatu, khawatir, panik, dan lain - lain. Di luar keluarga kandung, baru pria inilah yang gw hafal betul tingkah polahnya. 

I'm happy... truly happy...


Share:

4.6.15

Stay

Bismillahirrahmanirrahiim...


Memiliki seseorang yang ‘tetap tinggal’ di sisi, disaat ‘kurang’ adalah berkah. Apalagi ketika ‘kurang’ itu menunjuk tepat ke arahmu. Memiliki seseorang yang memilih tetap bersama, dibanding mencari orang lain yang lebih sempurna adalah anugrah. Di tengah ketidakpastian itu, abang tetap bersama gw. Semua sulit jadi begitu worth it ketika berdua sampai diujung jalan dan melihat bersama “inilah peta utuhnya, dan kita telah melewati banyak…”

Tapi ada kalanya kita sangat tergiur dan berandai – andai memiliki yang belum dimiliki. Atau sibuk membandingkan yang kita punya, dengan kepunyaan orang lain. Sampai lupa bahwa yang sudah dimiliki jauh lebih berharga. Kalau fatamorgana macam ini sudah mulai muncul, berpeganglah yang erat pada kebaikan sang kekasih. Dia tidak hanya punya kekurangan saja kan? Sebutkan satu orang yang tidak punya kurang? Tidak ada. Jadi jangan pernah berhalusinasi melihat rumput hijau subur milik orang yang (mungkin) cuma rumput sintesis. Tidak ada rumput hijau subur yang gak pakai usaha disiram, bahkan diberi pupuk.

Lama sekali gw belajar. Setelah sampai disini, barulah kadang terpikir. Kalau ‘kurang’ itu bukan menunjuk ke gw, akankah gw tinggal? Punyakah gw keberanian untuk tinggal? Entah mengapa gw merasa, gw akan memilih pergi. Gw gak yakin punya jiwa yang cukup besar untuk tinggal.

Pemikiran macam itu membuat gw merasa harus sangat bersyukur. Bersyukur karena memiliki seseorang yang tinggal, padahal bisa pergi…

Tidak mudah menerima kekurangan seseorang, apalagi, itu adalah sesuatu yag sangat diimpikan. Tapi kalau gw menilik ke belakang, dan melihat bagaimana dia menyikapi kekurangan gw, gw selalu sadar, gw tidak salah memilih…


Share: