11.8.14

Saya Dinas di Rumah


Bismillahirrahmanirrahiim...

Suatu hari yang gw lupa kapan tepatnya. Beberapa alumni sekolah gw dan abang mengadakan kumpul bareng alumni khusus Makassar. Abang memutuskan untuk datang, gw tentu saja ikut, tapi dengan perasaan gak enak.

Seperti yang sudah gw duga, ada acara memperkenalkan diri plus memperkenalkan karir. Wajar, SMA gw dan abang adalah SMA yang sangat menjunjung tinggi prestasi, karir dan pencapaian pribadi, apalagi yang kaitannya erat dengan pengabdian diri pada bangsa dan negara.

Microphone itu sampai di tangan gw. Sumpah detik itu gw pingin nangis. Karena kalau dibandingkan dengan semua alumni yang hadir disana, gw gak punya pencapaian apa - apa. Padahal, gw tahu gw cukup brilian, cukup cemerlang untuk meraih setara dengan apa yang mereka raih.Gw deg - deg-an. Tangan gemetaran.

Tapi tiba - tiba, gw terilhami sebuah kalimat. Bagi kebanyakan orang itu bukan prestasi, tapi hanya itulah satu - satunya prestasi yang gw banggakan.

"Nama saya Mershelly Syanel, Saya alumni angkatan XVI, Saya dinas di rumah, mendukung, mendampingi, Abang siswa Safruddin Alwi, supaya bisa mengabdi pada negara dengan baik, bersih, tanpa korupsi..."

Beberapa alumni tertawa, ada yang nyeletuk kagum, ada juga yang diam saja. Di sebelah gw, Abang siswa yang gw maksud menggenggam erat tangan gw. Pancaran matanya tulus menentramkan, membahagiakan, memberi kedamaian. I know, for these people, it's nothing, but for me, it is my greatest achievement... 

Gak ada yang keren dari kerjaan seorang istri rumah tangga, apalagi belum ada anak. Tapi, satu hal yang pasti. Tidak ada yang bisa melakukan pekerjaan gw, sebaik gw. Gak akan ada, gw berani jamin itu.

Sampai di rumah, gw buka buku alumni gw. Gw buka profil gw. Gw tertengun melihat cita - cita yang gw tulis 'Mentri Keuangan & Ibu Rumah Tangga'. Gw tersenyum. Gw berhasil meraih keduanya, di rumah. Nyahahaha! :D

Klise? Tidak. Abang sudah terbiasa dengan gw di rumah. Gw sudah terbiasa di rumah mendukung Abang. Sebuah perubahan dengan gw bekerja, sudah pernah dicoba, dan hasilnya cukup membuat gw dan abang kaget karena peran gw jadi tidak seimbang. Lebih tepatnya, gw yang tidak bisa menyeimbangkan fungsi gw antara rumah dan kantor.

Tidak ada yang salah dengan karir, gw hanya tahu gw tidak bisa  dan tidak siap meninggalkan rumah, lalu membiarkan orang lain mengurus markas gw dan mengambil alih otoritas gw. Dan gw tahu, seikhlas apapun abang melepas gw untuk berkarir, beliau lebih ikhlas gw di rumah. Gw tahu itu meski abang selalu mengelak.

Gw gak tahu apa suatu hari gw akan menyesali pilihan gw ini. Sejujurnya gw masih takut. Karena tidak sedikit orang melemparkan pertanyaan "Klo Abang tiba - tiba knapa - knapa, lo gimana?"

Gw gak bisa jawab. Gw gak pernah membayangkan itu dan gak punya daya untuk sekedar membayangkan. Gw takut. Tapi gw percaya semua ini, semua ini tidak akan sia - sia. Yang gw pilih, mulia dan tidak salah. Gw juga tidak melakukan pekerjaan yang hina. Gw yakin akan ada jalan, apapun yang terjadi.

Selamat berhari senin :D

Share:

1 komentar:

Jurezz said...

Toss dulu dek...