13.8.14

Lack of Empathy

Bismillahirrahmanirrahiim...

Akhirnya hati dan pikiran gw sudah cukup gelisah dan yakin harus menuliskan ini. Setiap menulis, gw selalu bertanya pada batin gw sendiri. Tujuan gw menulis ini apa? Baikkah? Dan ketika gw diliputi perasaan yang sangat kuat, dengan ciri - ciri kepala gw penuh dengan suara yang bergema - gema, itu artinya gw harus menulis, disaat yang sama gw juga telah bersiap menerima pro dan kontra yang timbul dari isi kepala gw.

Gw sudah mulai jengah dengan masalah ini sejak membaca komentar - komentar di instagram Marshanda (*Semoga ini bukan hitungan ghibah). Gw yang bukan Marshanda saja rasanya benar - benar ingin menangis. FYI, gw bukan fansnya. Gw memfollow instagramnya murni karna gw merasa punya kesamaan. 

Sebagai anak yang orang tuanya juga berpisah, gw sedikit banyak tau, kondisi seperti itu tidak mudah. 

Orang mungkin bertanya, "Masa sih cuma karena orang tua berpisah, bisa sampai tertekan seperti itu?"

Percayalah, Anda tidak ingin mengalaminya. Dalam kasus gw, gw sampai tidak bisa belajar sama sekali pada malam sebelum Ujian Akhir Semester. Gw hanya duduk diam di meja belajar. Tidak merencanakan menangis, tapi air mata mengalir sendiri. Gw ingat menelungkupkan bingkai foto keluarga di meja belajar. Gw ingat betapa susahnya untuk melangkah, disaat tujuan kita berjalan malah bubar jalan. 

Bahkan ketika ujian berlangsung, kertas ujian gw kosong. Gw berfikir, tapi bukan memikirkan jawaban soal. Gw memikirkan 'Apa yang salah? Sampai harus begini?' Tanpa gw minta, kepala memutar setiap kenangan yang gw punya bersama keluarga gw yang utuh. Gw ingat gw menunduk. Air mata gw jatuh di tangan gw yang tak kunjung bergerak menulis apa pun.

Pulang ke kosan pun gw masih ingat. Gw mengunci pintu, memutar lagu rock keras- keras. Menenggelamkan wajah di bantal, lalu teriak. Satu teriakan, satu irisan di hati, satu pedih yang sulit digambarkan. Gw ingat gw tidak membuka pintu kamar gw untuk siapa pun berhari - hari. Gw bahkan tidak makan karena memang rasanya tidak lapar. Sampai - sampai adik kosan gw yang khawatir membelikan gw makanan. (*Pahalamu banyak, Dek...)

Gw percaya orang punya resistensi yang beda - beda dalam menghadapi masalah. Dan gw percaya, masalah seseorang, hanya orang itulah yang sanggup menghadapinya. Orang lain tidak akan sanggup meski masalah itu terlihat ringan, atau pernah menghadapi yang lebih berat. 

Bersyukurlah tidak diberi masalah yang sama karena mungkin Allah Tahu, kita tidak akan sanggup menghadapinya. Bukankah kita hanya diberi cobaan yang kita sanggup menghadapinya?

I'm not trying to be wise here. Gw hanya ingin mengajak orang berempati daripada menghakimi. Kalau memang tidak bisa berempati, atau memberi dukungan supaya dia kuat, minimal jangan komentar. Dia sudah cukup terpukul dengan masalahnya dan kita seperti terawa - tawa sambil menambah garam di lukanya.

Percayalah, itu tidak mudah. Melihat orang tua bertengkar saja sudah sangat memilukan, apalagi harus melihatnya berpisah? 

Meskipun tidak bisa disamakan dengan 'kehilangan', gw merasa kehilangan kedua orang tua gw waktu mereka berpisah. Kehilangan suasana, kehilangan sifat orang tua yang dulu. Karena setelah itu terjadi, orang tua akan berubah. Seperti kebanyakan orang yang melewati masalah, mereka belajar sesuatu dan mereka punya perspektif baru. Belum selesai kaget orang tua berpisah, sudah harus kaget lagi dengan perubahan sikap, dan harus siap kaget lagi kalau orang tua menemukan pasangan baru.

Gw pribadi butuh waktu kurang lebih 5 tahun untuk move on. Itu pun belum merasa move on sepenuhnya, tapi gw sudah bisa menerima, dan pada akhirnya melihat segalanya sebagai sesuatu yang baik.

Gw tidak menyalahkan pilihan orang tua gw karena gw yakin mereka sudah mempertimbangkan banyak, dan berusaha banyak.

Have a NICE NICE day!
Share:

1 komentar:

aizeindra yoga said...

semua orang punya cara tersendiri untuk hadapi masalah ya mbak, ada yang lari tidak ingin menghadapinya malah lari agar masalah itu redah semestinya, mungkin lari ke negara lain merefresh otak,

memang butuh waktu yang lama, namun ada juga yang butuh waktu sehari dua hari, tapi itulah manusia, tanpa masalah otak tidak bekerja, dan aku baru sadar itu, masalah untuk diselesaikan bukan untuk lari, aku salah aku lari aku terlalu egois dengan berkata ini salah itu salah, namun aku ambil positifnya dari sisi lain keluargaku aku gak bakal menjadi seperti papa dan gak bakal sia siain istriku kelak seperti mama,

keluarga terkadang tempat pembelajaran hidup ya mbak yaa

eh mampus ini aku komentar atau ngecerpen, maaf mbak heheh