15.8.14

Abang, Istri Cilik, dan Kopi

Bismillahirrahmanirrahiim...

Abang pulang kantor dengan sekantong belanjaan dan mata berbinar. Dengan sorot mata seperti itu, gw tahu abang akan melakukan suatu eksperimen. Hampir 4 tahun gw menemukan ekspesi itu pada abang dengan kameranya. Gw yakin kali ini, binar mata itu untuk kopinya. 

Abang : "Jadi gini, Abang terinspirasi karna kita ngomongin Latte tadi siang..." *so excited*

Gw : *memperhatikan abang bicara dengan hati yang sudah tertawa terbahak2, tebakan gw benar adanya* "Hmmm... Jadi abang mau bikin buih di atas kopi yang bisa gambar pohon cemara atau hati itu ya?"

Abang : "Exactly! Abang pakai botol minum Dede untuk bikin susu yang berbuih yah sayang..." *langsung ngambil botol yg dimaksud tanpa persetujuan, dan langsung bereksperimen*

Gw : *sedikit was - was, tapi tetap mencoba tenang di meja makan*

Abang : *Mulai beraksi* "Ih, tumpah!"

Benerkan... Feeling istri probabilitas melesetnya cuma 5%

Gw : "Ada buihnya, bang?" *ih, kok gw jadi ikut penasaran*

Abang : *melongok ke botol* "Gak ada..."

Gw : "Coba pakai blender..." *nyumbang saran karna kasihan, nanti klo gw ketawain malah putus asa kan gak seru*

Abang : "Blendernya dimana ya, De?" *mondar mandir cari blender*

Gw : *Wah terpaksa turun tangan juga nih*

Lalu kami berdua asyik memblender susu sampai berbuih. Gw sendiri gak sadar ikut asyik dalam kegilaan ini. Lalu abang dengan gaya maksimal ala2 barista baru jadi kemaren subuh, udah siap bikin pohon cemara diatas kopi.

Hasilnya...

......

....

...

Cuma buih putih tak berbentuk ngapung di atas kopi tanpa estetika. 

Kasian abang. Eksperimennya gagal...

Gw : "U ruined my masterpiece, I brewed the coffee for at least 30 minutes, waiting for every drop of it!" *nepuk jidat*

Abang : "Coba campur caramel siapa tau enak!"

Ajaibnya, setelah dicampur caramel, rasanya jadi persis banget ama Caramel Macchiato punya Star****.

p.s : Jangan percaya, biasanya orang yang gagal eksperimen emang punya cara tersendiri untuk menghibur hati
Share:

13.8.14

Lack of Empathy

Bismillahirrahmanirrahiim...

Akhirnya hati dan pikiran gw sudah cukup gelisah dan yakin harus menuliskan ini. Setiap menulis, gw selalu bertanya pada batin gw sendiri. Tujuan gw menulis ini apa? Baikkah? Dan ketika gw diliputi perasaan yang sangat kuat, dengan ciri - ciri kepala gw penuh dengan suara yang bergema - gema, itu artinya gw harus menulis, disaat yang sama gw juga telah bersiap menerima pro dan kontra yang timbul dari isi kepala gw.

Gw sudah mulai jengah dengan masalah ini sejak membaca komentar - komentar di instagram Marshanda (*Semoga ini bukan hitungan ghibah). Gw yang bukan Marshanda saja rasanya benar - benar ingin menangis. FYI, gw bukan fansnya. Gw memfollow instagramnya murni karna gw merasa punya kesamaan. 

Sebagai anak yang orang tuanya juga berpisah, gw sedikit banyak tau, kondisi seperti itu tidak mudah. 

Orang mungkin bertanya, "Masa sih cuma karena orang tua berpisah, bisa sampai tertekan seperti itu?"

Percayalah, Anda tidak ingin mengalaminya. Dalam kasus gw, gw sampai tidak bisa belajar sama sekali pada malam sebelum Ujian Akhir Semester. Gw hanya duduk diam di meja belajar. Tidak merencanakan menangis, tapi air mata mengalir sendiri. Gw ingat menelungkupkan bingkai foto keluarga di meja belajar. Gw ingat betapa susahnya untuk melangkah, disaat tujuan kita berjalan malah bubar jalan. 

Bahkan ketika ujian berlangsung, kertas ujian gw kosong. Gw berfikir, tapi bukan memikirkan jawaban soal. Gw memikirkan 'Apa yang salah? Sampai harus begini?' Tanpa gw minta, kepala memutar setiap kenangan yang gw punya bersama keluarga gw yang utuh. Gw ingat gw menunduk. Air mata gw jatuh di tangan gw yang tak kunjung bergerak menulis apa pun.

Pulang ke kosan pun gw masih ingat. Gw mengunci pintu, memutar lagu rock keras- keras. Menenggelamkan wajah di bantal, lalu teriak. Satu teriakan, satu irisan di hati, satu pedih yang sulit digambarkan. Gw ingat gw tidak membuka pintu kamar gw untuk siapa pun berhari - hari. Gw bahkan tidak makan karena memang rasanya tidak lapar. Sampai - sampai adik kosan gw yang khawatir membelikan gw makanan. (*Pahalamu banyak, Dek...)

Gw percaya orang punya resistensi yang beda - beda dalam menghadapi masalah. Dan gw percaya, masalah seseorang, hanya orang itulah yang sanggup menghadapinya. Orang lain tidak akan sanggup meski masalah itu terlihat ringan, atau pernah menghadapi yang lebih berat. 

Bersyukurlah tidak diberi masalah yang sama karena mungkin Allah Tahu, kita tidak akan sanggup menghadapinya. Bukankah kita hanya diberi cobaan yang kita sanggup menghadapinya?

I'm not trying to be wise here. Gw hanya ingin mengajak orang berempati daripada menghakimi. Kalau memang tidak bisa berempati, atau memberi dukungan supaya dia kuat, minimal jangan komentar. Dia sudah cukup terpukul dengan masalahnya dan kita seperti terawa - tawa sambil menambah garam di lukanya.

Percayalah, itu tidak mudah. Melihat orang tua bertengkar saja sudah sangat memilukan, apalagi harus melihatnya berpisah? 

Meskipun tidak bisa disamakan dengan 'kehilangan', gw merasa kehilangan kedua orang tua gw waktu mereka berpisah. Kehilangan suasana, kehilangan sifat orang tua yang dulu. Karena setelah itu terjadi, orang tua akan berubah. Seperti kebanyakan orang yang melewati masalah, mereka belajar sesuatu dan mereka punya perspektif baru. Belum selesai kaget orang tua berpisah, sudah harus kaget lagi dengan perubahan sikap, dan harus siap kaget lagi kalau orang tua menemukan pasangan baru.

Gw pribadi butuh waktu kurang lebih 5 tahun untuk move on. Itu pun belum merasa move on sepenuhnya, tapi gw sudah bisa menerima, dan pada akhirnya melihat segalanya sebagai sesuatu yang baik.

Gw tidak menyalahkan pilihan orang tua gw karena gw yakin mereka sudah mempertimbangkan banyak, dan berusaha banyak.

Have a NICE NICE day!
Share:

11.8.14

Saya Dinas di Rumah


Bismillahirrahmanirrahiim...

Suatu hari yang gw lupa kapan tepatnya. Beberapa alumni sekolah gw dan abang mengadakan kumpul bareng alumni khusus Makassar. Abang memutuskan untuk datang, gw tentu saja ikut, tapi dengan perasaan gak enak.

Seperti yang sudah gw duga, ada acara memperkenalkan diri plus memperkenalkan karir. Wajar, SMA gw dan abang adalah SMA yang sangat menjunjung tinggi prestasi, karir dan pencapaian pribadi, apalagi yang kaitannya erat dengan pengabdian diri pada bangsa dan negara.

Microphone itu sampai di tangan gw. Sumpah detik itu gw pingin nangis. Karena kalau dibandingkan dengan semua alumni yang hadir disana, gw gak punya pencapaian apa - apa. Padahal, gw tahu gw cukup brilian, cukup cemerlang untuk meraih setara dengan apa yang mereka raih.Gw deg - deg-an. Tangan gemetaran.

Tapi tiba - tiba, gw terilhami sebuah kalimat. Bagi kebanyakan orang itu bukan prestasi, tapi hanya itulah satu - satunya prestasi yang gw banggakan.

"Nama saya Mershelly Syanel, Saya alumni angkatan XVI, Saya dinas di rumah, mendukung, mendampingi, Abang siswa Safruddin Alwi, supaya bisa mengabdi pada negara dengan baik, bersih, tanpa korupsi..."

Beberapa alumni tertawa, ada yang nyeletuk kagum, ada juga yang diam saja. Di sebelah gw, Abang siswa yang gw maksud menggenggam erat tangan gw. Pancaran matanya tulus menentramkan, membahagiakan, memberi kedamaian. I know, for these people, it's nothing, but for me, it is my greatest achievement... 

Gak ada yang keren dari kerjaan seorang istri rumah tangga, apalagi belum ada anak. Tapi, satu hal yang pasti. Tidak ada yang bisa melakukan pekerjaan gw, sebaik gw. Gak akan ada, gw berani jamin itu.

Sampai di rumah, gw buka buku alumni gw. Gw buka profil gw. Gw tertengun melihat cita - cita yang gw tulis 'Mentri Keuangan & Ibu Rumah Tangga'. Gw tersenyum. Gw berhasil meraih keduanya, di rumah. Nyahahaha! :D

Klise? Tidak. Abang sudah terbiasa dengan gw di rumah. Gw sudah terbiasa di rumah mendukung Abang. Sebuah perubahan dengan gw bekerja, sudah pernah dicoba, dan hasilnya cukup membuat gw dan abang kaget karena peran gw jadi tidak seimbang. Lebih tepatnya, gw yang tidak bisa menyeimbangkan fungsi gw antara rumah dan kantor.

Tidak ada yang salah dengan karir, gw hanya tahu gw tidak bisa  dan tidak siap meninggalkan rumah, lalu membiarkan orang lain mengurus markas gw dan mengambil alih otoritas gw. Dan gw tahu, seikhlas apapun abang melepas gw untuk berkarir, beliau lebih ikhlas gw di rumah. Gw tahu itu meski abang selalu mengelak.

Gw gak tahu apa suatu hari gw akan menyesali pilihan gw ini. Sejujurnya gw masih takut. Karena tidak sedikit orang melemparkan pertanyaan "Klo Abang tiba - tiba knapa - knapa, lo gimana?"

Gw gak bisa jawab. Gw gak pernah membayangkan itu dan gak punya daya untuk sekedar membayangkan. Gw takut. Tapi gw percaya semua ini, semua ini tidak akan sia - sia. Yang gw pilih, mulia dan tidak salah. Gw juga tidak melakukan pekerjaan yang hina. Gw yakin akan ada jalan, apapun yang terjadi.

Selamat berhari senin :D

Share: