29.8.13

I Remember That Day

Bismillahirrahmanirrahiim...

I remember that day... When doctor said my baby is died. I remember i didn't cry. No, not yet. I see my husband face, sad, it hurts me so much. He stopped recording videos, confused. I felt like being robbed, shocked.

I remember that day... I was in the cab. He holded my hand, then i cried, in silence. My heart's broken. Thinking that i lost her. Thinking that i wouldn't see her. Thinking that i made my husband sad or maybe dissapointed?

I remember that day... The doctor said i'll be ok. But, Is she'll be ok? I don't know. I'm afraid she'll mad at me someday...

I remember that day, red and white... I told everyone i'm ok. I don't feel hurt. I smile, but my heart.

I saw her couple times in my dreams, i'm happy. People said i don't have to believe 'dreams'. I don't care, i see you in  my dreams. Hugging me and kissing me. I told her, she is perfect. I told her i miss her so much. I told her not to forget me. I kept asking her to apologize me. 

You're gold, kid... 
I miss you so bad...





Share:

13.8.13

Being a Teacher

Bismillahirrahmanirrahiim...

Gw sering bilang hampir dimana - mana tentang cita - cita yang satu ini, jadi Dosen, jadi Pengajar, jadi Guru. Cita - cita ini muncul dadakan macam ilham yang tiba - tiba muncul di kepala Archimedes sampai tiba - tiba teriak Eureka! di kamar mandi dalam keadaan telanjang dan hanya memakai Hiero. 

Waktu itu kelas 3 SMA, dan gw mengetuai dua tim mata pelajaran, Ekonomi dan Geografi. Sebagai senior, gw punya semacam kewajiban moral untuk 'ngajar' adik kelas dalam rangka regenerasi calon  peserta olimpiade Ekonomi. Ada semacam rasa senang yang gak bisa digambarkan waktu tau kalau adik - adik paham apa yang gw ajarkan. Gw juga diliputi rasa berhasil yang ajaib waktu adik kelas gw berhasil meraih emas di Olimpiade Ekonomi. Gw gak mengatakan emas itu diperoleh karena hasil didikan gw, gw hanya merasa bangga karena ikut 'mengantar'-nya kesana. Sejak saat itu, meski gak diucapin, dalam hati gw sungguhan ingin jadi Pengajar.

Ada suatu kejadian dimana orang tua kurang setuju dengan cita - cita gw. Balik dari SMA TN, gw ditanya cita - cita gw apa, dengan jujur, gw bilang "Jadi Ibu Rumah Tangga sama Guru". Seketika Mama gw menangis. Gw ngerti sih, karena sebelumnya, waktu ditanyai cita - cita gw apa, gw selalu jawab pingin jadi menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Cita - cita gw 'dinilai' turun derajat, karena pingin jadi Guru. But that's OK. Gw ralat ke Mama kalau yang gw maksud adalah jadi Dosen setelah pensiun jadi Mentri Perekonomian, sambil fokus jadi Ibu Rumah Tangga. Mama lumayan lega. Gw ikutan lega, tapi mau diredam kayak apa juga, keinginan jadi Pengajar itu seperti menggema - gema dalam hati. Gak bisa hilang.

Setelah banyak hal yang terjadi, salah satunya Mama menikah lagi dengan seorang Dosen (*Nah Lo!), yang mana sangat mendukung gw jadi dosen atau guru (*Nah Lo Lagi!), Mama gw seketika jadi setuju - setuju aja gw jadi guru atau dosen. Malah mendukung. Di bagian ini, gw pingin nangis rasanya. Kenapa? Karena ternyata, cita - cita yang menggema - gema di hati itu, yang gak pernah terucap itu, yang gak pernah jadi bagian dari doa setelah solat itu, dikabulkan Allah. Gw dapat izin jadi guru, setelah sebelumnya gw dapat izin juga jadi Istri Rumah Tangga di usia 20 tahun. Kesimpulannya, dua cita - cita gw yang awalnya gak mungkin diizinin, dengan cara yang 'entah bagaimana' hanya Allah yang tau, dikabulkan.

Akhirnya gw ngelamar jadi guru, karena untuk jadi dosen, minimal harus S-2. Ini adalah surat lamaran gw yang pertama setelah satu tahun lulus. Sejujurnya gw gak PD, karena gak punya Akta-IV, atau gelar kependidikan (*Semacam lisensi untuk mengajar). Tapi demi cita - cita yang menggema di hati itu, gw kirim juga lamaran itu via email. Dan eh, dipanggil audisi interview.

Karena sekolahnya bertaraf 'National-Plus', bahasa pengantarnya bilingual, Inggris - Indonesia. Yang interview kepala Sekolah ama Bule yang kerja jadi penasehat di sekolah itu (*Sengaja gak nyebutin nama, takut terlacak). Waktu interview, gw dipuji habis - habisan, tapi bukannya Ge-Er, gw malah ngerasa ini adalah 'bahasa halus' kalau gw ditolak . Gw juga disuruh Demo Teaching pake bahasa inggris. Dengan blo'onnya, gw gambar sebuah rumah dan sebuah perusahaan, lalu berceritalah gw tentang siklus ekonomi. Eh, mereka malah senang karena gw menggambar, gw ingat kepala sekolahnya bilang, "The children would be happy learning Economics from picture, very good!".

Gak disangka, gambar yang gw anggap aneh itu, berhasil meloloskan gw jadi guru. Alhamdulillah. Gw juga udah ngerasain tanda tangan kontrak kerja, ngajar di depan beraneka jenis anak - anak dari SMP, SMA, sampai SMK, punya meja kerja sendiri, punya teman kantor, ditegur bos, dapat alat tulis, de el el. Hihihihi...

Orang tua gw juga turut bahagia, mertua gw juga. Dan yang gak kalah bahagia adalah syuami gw tercinta. Abang mendukung gw secara penuh dan lebih dari sekedar kata - kata. Abang yang melatih gw interview. Abang pura - pura jadi interviewer dan gw latihan menjawab pertanyaan. Abang juga yang ikut sibuk nyariin baju yang cocok buat dipakai interview. Abang juga yang beliin gw baju batik, kemeja putih, celana dan sepatu untuk 'ngantor'. Abang juga rela bangun lebih pagi untuk ngantar gw ke sekolah. Abang juga ikutan stress bantuin gw inget - inget pelajaran ekonomi akuntansi. Bahkan Abang dan Mamak mertua gw menjahitkan celana kerja untuk gw pas liburan lebaran kemarin di Kendari. FYI, mertua gw adalah penjahit profesional, hahaha!

Dimana lagi hendak kucari, pria sepertimu, Syu...
Syuami yang mendukung segala cita - cita istrinya...
Syuami yang selalu berusaha menyediakan apa yang diinginkan istrinya...
Syuami yang selalu sabar atas segala kurang istrinya...
Terimakasih, syu... terimakasyih... I love you so much!

Inilah gw dengan Bio baru, A Philomath Domestic Diva! Married a wonderful man, Safruddin Alwi at 20th, can't live without him. Teaching Economics and Accounting. Alumnae of Taruna Nusantara Senior High School. Telkom Institute of Management's Bachelor of Business Management. I love reading spirituality books, healthy life and science-fiction. A dimple on my right cheek, Belo' eyes, and very thick eyebrows.

Alhamdulillah, memang sulit mendustakan nikmat-Mu...
Share:

5.8.13

Maaf Ma, Pa...

Bismillahirrahmanirrahiim...

Saya melihat bapak - bapak tua di bandara. Bapak itu bekerja mengangkut barang dengan troli. Berlarian kesana kemari padahal sudah sepuh. Tubuhnya kurus kering, kulitnya keriput. Saya tiba - tiba jadi teringat orang tua saya. Keduanya sering saya tinggal semenjak lulus SMP sampai sekarang.

Tak bisa dipungkiri, walau sesekali saja saya bisa bertemu kedua orang tua, saya sadar mereka menua. Ubannya bertambah, keriputnya bertambah. Dititik ini, saya merasa seperti sayalah penyebab tubuh mereka semakin membungkuk. Kalau tidak karena saya harus makan bergizi dan sekolah di tempat yang bagus, orang tua saya tak perlu sibuk - sibuk pergi pagi pulang malam. Yang saya rasa tidak berubah cuma satu, cintanya dan doanya pada saya yang tak pernah putus. Sedurhaka apapun saya, cinta mereka tak pernah putus.

Dan saya, dengan gengsi saya yang setinggi gunung, cuma bisa bikin tulisan di blog. "Maaf Ma, Pa, lagi - lagi Shelly tidak pulang..." Sudah sampai disitu. Tanpa berani meminta maaf secara langsung. Mungkin cinta dan gengsi memang harus dipisah.
Share: