22.3.13

Diary Sirsak

Bismillahirrahmanirrahiim...


Namaku Sirsak. Kucing rumahan berdarah gak jelas. Buyutku bangsawan Anggora yang menikah dengan Pangeran Persia. Nenekku berdarah campuran menikah dengan saudara jauh yang juga Bangsawan Anggora. Ibuku yang agak lain sejarahnya, memilih menikah dengan kucing pribumi asli asal Indonesia. Pernikahan ini tentu saja memicu kontroversi di Istana. Akhirnya ibuku lebih memilih memperjuangkan cintanya. Ikut bersama ayah berkelana di jalanan sampai akhirnya dipungut manusia dan tinggal di Rumah. Alhamdulillah kasta kami naik satu tingkat. Semoga saja jodohku bukan seekor kucing hutan, ya...

Kenapa namaku sirsak? Itu sepenuhnya salahku. Bukan salah majikanku. Pasalnya ketika pemberian nama seperti Monica, Si Manis, Si Bening, Stephy, dan Sarah, aku hanya diam. Pas dibilang "Sirsak", aku mengeong keras. Bukan karena aku suka dengan nama 'Sirsak', dalam bahasa kucing teriakanku pada saat itu artinya "Gila nih orang kagak kreatip kasih nama". Namun majikanku salah mengartikan. Aku dikira setuju dan sepakat. Di dukung dengan warnaku yang mirip buah Sirsak katanya. 

Kucing lain bilang, aku manis dan cantik. Di komplek perumahan ini, aku adalah kucing idola. Tapi aku tidak sembarang memilih pria. Kata majikanku, "Pria yang salah cuma bikin patah hati". Oh ya, nama majikanku, Putri. Dia juga cewek idola di komplek. Wajahnya cantik. Rambutnya hitam bergelombang panjang. Matanya biru. Kulitnya putih bengkuang. Putri merawatku dengan baik. Aku tidur bersamanya di kamarnya.

Di suatu malam, aku melihat Putri menangis. Entah karena apa. Di malam yang lain, aku melihatnya tertawa dan senyum - senyum sendiri. Di malam yang lainya lagi, aku melihat putri marah - marah dan membanting sebuah bingkai foto. Fotonya bersama seorang pria. Pecahan kaca berpencar di mana - mana. Bi Inah yang membersihkan saja sampai ikutan terluka kakinya. 

Semenjak peristiwa 'Bingkai foto pecah' putri tak pernah lagi keluar malam. Tak pernah lagi tersenyum. Tak pernah tertawa. Tak pernah bertelpon ria. Tapi dia juga tampak seperti manusia tanpa jiwa. Aku kasihan, tapi tak tau harus berbuat apa. Putri kelelahan menangis sampai ketiduran. Kuendus pipinya. Ini merupakan kecupan selamat tidur ala kucing. Ada selembar kertas di tangannya.

"Buatku cinta sudah mati... Pembunuhnya bukan dia, bukan juga pria - pria sebelumnya. Cintaku bunuh diri... Memilih mati daripada jatuh cinta lagi..."

Share:

0 komentar: