24.3.12

Kemeja Merah Marun

Bismillahirrahmanirrahiim...

Aku tengah sibuk menariki setiap sudut sprei tempat tidur. Kutarik ujung sini, ujung yang tak kuharapkan pun ikut tertarik. Bagian tengahnya tak kunjung menegang, masih kusut tanda tak rapi. Aku mulai tak profesional.
Putus asa menuntunku untuk duduk saja di atas tempat tidur itu, mataku tertuntun ke arah setumpuk pakaian yang tertumpuk di belakang pintu. Argh... kapan sih hanya sedikit pakaian tertumpuk disana? Aku menghampiri tumpukan pakaian itu, kujatuhkan satu persatu baju yang sudah tak layak pakai karena bau-nya sudah menuntut untuk dicuci. Nyamuk berterbangan, aku kesal, sudah sempat bersarang disini para penerima donor darah gratis dariku dan syuami tiap malam. Lihat saja nanti, akan kuhabisi mereka dengan seprot nyamuk terampuh, ujarku bersiap balas dendam. 
Aku terpaku, menatap kemeja merah marun milik syuamiku. Kuperhatikan baik – baik. Warnanya kini telah memudar. Dulu, kemeja ini rutin dicucikan di laundry, kini, seiring perubahan status, tugas mencuci itu diambil alih oleh istrinya, siapa lagi kalau bukan aku? Betapa kemeja ini telah melakukan banyak hal. Kemeja marun ini yang membuatku jatuh cinta pada si empunya. Kemeja marun ini pula-lah yang menemani syuamiku berkerja dan menyerap peluhnya. Parfum syuami masih tertinggal disana. Rindu. Baru saja ditinggal beberapa jam, tapi hati rasanya tak sabar menunggu pulang. Ingin kupeluk si empunya baju ini sesampainya di rumah. Lain kali tak kan kuizinkan lagi Ia pergi menjauh lebih dari dua puluh empat jam.
Terimakasih kemeja merah marun...

Share:

0 komentar: