14.3.12

Catatan Istri Cilik : I Love This Man...

Bismillahirrahmanirrahiim...

Ini sudah entah yang keberapa kalinya gw melirik jam di ponsel. Tujuannya? Hanya sekedar untuk memastikan ini telah larut malam. Setiap detik yang terlewat rasanya mampu menusuk - nusuk jantung. Benar - benar rasa khawatir yang menyiksa.

22:25 WIB
"Tok... tok...". Pintu rumah diketuk. Gw, tanpa berpikir panjang, langsung berhambur keluar dari pintu kamar. 

"Abaaaangg!!!" Jerit gw sambil membuka pintu rumah. 

Girang bukan kepalang melihat belahan jiwa gw akhirnya pulang. Seraut wajah yang gw cintai berdiri di sana, dengan wajah super lelah, bahkan gw gak pernah melihat abang selelah ini dalam kurun setahun lebih pernikahan kami. Gw langsung mengambil alih tas ranselnya. Tak lupa menyalami dan mencium kedua pipinya. Sengaja tak banyak bertanya. Secapek itu masih perlu dihujani pertanyaan? Yang benar saja? Dari buku yang gw baca, pertanyaan - pertanyaan disaat syuami keletihan mampu mengundang kemarahan. Jadi kusimpan saja kumpulan tanda tanya di kepalaku. Simpan buat besok.

"Abang mual Dede... kayaknya abang masuk angin..." ujar abang lesu. Ingin rasanya gw becandain 'Hah?! Abang Hammiyyyll??' Tapi rasanya bukan waktunya dan bukan reaksi yang paling tepat gw keluarkan saat itu.
"Udah makan malam, sayang...?" Tanyaku lembut.
"Dikit, Abang gak selera..." Jawab abang masih dengan wajah letih.

Gw langsung mengambil makanan dan minuman ke kamar, lalu dengan cepat mengambil baju tidur Abang, mematikan AC, dan mengambil minyak Cajuput. Abang sudah tepar di tempat tidur. Gw segera melumuri seluruh badan Abang dengan minyak. Memijit - mijit hampir seluruh tubuhnya juga, karena gw tau, besok abang juga masih sibuk dengan acara peresmian kantornya. Gw berharap besok abang udah seger-an.

Selesai memijit, gw memeriksa baju Batik yang dipakai abang besok supaya siap pakai. Gw periksa ponselnya, gw isi batrei ponsel yang habis. Gw periksa tasnya, gw lihat apakah kamera yang dipakai Abang besok masih ada batreinya. Gw siapkan alarm supaya besoknya Abang gak telat berangkat ke kantor. Dan semua detail - detail penting.

Gw menatap wajah yang tertidur pulas itu. Mengigau. "Dimana tikusnya, Dede?". Gw tertawa tertahan. Kasihan. Capek sekali cinta gw ini. Gw berbaring di sampingnya. Gw tatap lekat - lekat. Saat itu rasanya seluruh darah dalam nadi berdesir. Oh, betapa gw sangat mencintai orang ini. Orang yang sangat mencintai gw juga, dan bekerja sekeras ini demi gw. Hati gw terenyuh, hati rasanya luluh, saat itu rasanya sayang sekali.

Gw tersenyum sendiri, sempat gw daratkan satu kecupan di kening Abang. "Selamat tidur, Sayang..."

05.30 WIB
Setelah shalat subuh jama'ah berdua. Gw segera matiin lampu, nyemir sepatu Abang, dan nyiapin sarapan buat Abang. Sarapannya gak mewah kok, Baby J.Co plus Kopi Carnation (*gak bisa masak nih ye...). Tiba - tiba Sang Syuami menghampiri gw.

"I need a hug..." Kata syuami sambil tersenyum lebar.
Gw yang kebingungan, tetap mengabulkan permintaan Abang. Gw peluk Abang dengan pelukan sayang yang super hangat. Pelukan terbaik yang gw bisa usahakan meski gw bingung tujuannya untuk apa. Menenangkan? "Abang kenapa?" Tanya gw pada akhirnya.
"Makasih, Sayang... udah nyiapin semuanya buat Abang, you support me!" Ujar Abang tiba - tiba.
"Masih masuk angin, Sayang?" tanya gw lagi.
"Engga, udah enakan. Entah apalah jadinya Abang klo Dede nda ada disini... Makasyih Dede..." seru Abang yang terdengar tulus oleh gw. Then he kissed me.

Di sini, di rumah kontrakan baru kami, istri cilik sedang berusaha jadi istri super hebat. Di sini juga, cinta rasanya sangat nyata. Hampir gw lupa klo dulu gw sering bilang bahwa cinta itu hanya dongeng belaka.
Kita Berdua Harus Imut
Share:

0 komentar: