28.3.11

Catatan Istri Cilik #3

Bismillahirrahmanirrahim...

Dandan untuk Syuami
Pagi Pertama.

Waktu itu langit cerah (baget) seolah ikut berbahagia merestui cinta 'sah' gw dan Syuami gw setelah 3 bulan menjalani cinta yang tidak 'sah'. Hari itu, gw tau gimana berdebarnya hati Hawa ketika pertama kali bertemu Adam setelah terpisah lama dan jauh di Bumi. Hari itu pula gw tau betapa bersyukurnya Hawa  diutus hidup untuk mendampingi Adam di Surga berdampingan-bersisian dalam restu Allah SWT. Pagi yang sangat indah. Lebih indah dari pagi - pagi lainnya dalam hidup gw. Pagi itu, gw bangun tidak sendiri, ada Syuami gw disisi gw...

Pagi itu kami heboh. Malu mau keluar kamar. Takut langsung diserang berbagai macam pertanyaan yang tidak kami inginkan kehadirannya dari mulut siapapun.
"Abang duluan deh... dede malu, ahhh..." Ujarku sambil sedikit mendorong abang ke pintu kamar.
"Bareng aja deh, ya..." jawab abang mencoba win-win solution.
"Gak usah keluar deh... males... ntar pasti ditanya - tanyain..." ujarku.
"Yah... kan laper, sayang... masa dede nda laper?" tanya abang retoris.
"Laper..." Jawabku dengan ekpresi malang.

Kami berdua diam beberapa saat. Bingung mau ngapain. Keluar kamar, malu. Akhirnya aku setuju untuk keluar bareng - bareng menghadapi semuanya berdua. Kami turun tangga pelan - pelan. Gandengan tangan.

"Halooooo...." Sapaku pada keluargaku yang sudah berkumpul di bawah untuk sarapan. Setelah menggunakan kata sapaan macam ini, aku baru sadar klo kata 'Halo' ini tidak pas dikeluarkan. Kaku dan norak.
"Mau makan, Shell?" Ujar kakaknya mama dengan tatapan khusus, yang dengan tatapan itu rasanya gw udah dicolek abis - abisan.
"Iya, laper..." Jawabku singkat tak berani menjawab tatapan mata 'khusu' itu.
"Makan, Bang?" Tanya kakanya mama lagi ke Abang.
"Iya, Bu..." Jawab abang singkat.

Walhasil kami makan lahab luar biasa. Entah setan dari mana yang membuat kami berdua kalap makan segitu banyak. Sepiring berdua. Cara makan yang masih sering kami lakukan sampai sekarang. Dari situ gw tahu, bahwa lapar lebih penting dari cinta, tak jarang nasi yang sudah gw susun untuk disuap, direbut oleh abang. gw pun membalas mengambil nasi yang hampir Abang suap.

Setelah makan, aku diam. Dari sudut ruangan mama udah ngasih kode "Ambilin minum abang..." bisik mama dari jauh. Terlambat. Abang udah membawa piring kami sendiri ke dapur dan mengambil minum buatnya plus buat gw. Syuami yang mandiri, bukan? Melihat itu mama geleng - geleng "Gak boleh gitu...", ujar mama dari jauh. Aku ciut. Belum sehari jadi Syuami-istri, aku udah nemuin kegagalan awal. Benar - benar prestasi. Tapipun begitu, aku masih gak malu buat minum air putih yang udah diambilin abang. Benar - benar istri yang tak tau diri.

Tiba - tiba aku ingat kalau masih punya es krim di kulkas satu cup besar. Setelah malam hari kemaren gw memberi ultimatum terhadap seluruh rakyar rumah "Barang siapa berani menyentuh Es Krim gw... FATAL!". Gw langsung berlari ke kulkas dan menemukan Es Krim itu masih utuh dan sempurna. Mataku berbinar - binar. "Hwoooowww... Es krimm!! Bang, Es Krim kita masih ada!", FYI, ini adalah es krim sisa akad kemaren. Pagi itu kami makan es krim berdua dengan suka cita.

Siangnya, aku memutuskan untuk menyetir mobil setelah sekian lama tidak pernah menyetir mobil lagi. Tanpa sepengetahuan mama, karena mama pergi, dan kalau minta izin, pasti tidak diizinkan. Tujuan pertama, hotel tempat ortu abang menginap.

"Abang, siap - siap... ini adalah driver paling hebat sejagat raya! Pasang sabuk pengaman!" Ujarku dalam mobil.
"Yakin, Dek..."
Aku diam. Tidak yakin. "Ah... tenang aja... dede bisa kok dulu...."
Ekspresi abang penuh khawatir. "Hati - hati ya, dek... baca doa..."

Mobil meluncur, "Bang! bang! liatin spionnya dong ah! dede kan minus!" jeritku panik.
"Iya, sayang... gak ada apa - apa kok ini..." jawab abang fokus melihat spion
Tiba - tiba truk besar nyalip dengan suara klakson maha dahsyat. "Hwaaaaa... kok dia gak bilang - bilang sih mau nyelip?" Seruku marah - marah.
"Gak mungkin kan dia berhenti dulu, trus buka kaca, pamit nyelip ama dede, Sayang?" ujar abang bercanda.
Aku diam, kembali fokus sambil berdoa - doa dalam hati. Abang juga ikut berdoa supaya kami selamat. 

Akhirnya sampailah kami di Hotel tempat Mertua gw menginap. Setelah itu kami tancap gas lagi mau jalan - jalan. Keberhasilan menjangkau hotel membuat gw merasa mampu menjangkau tempat diujung dunia sekalipun. Gw nyetir lagi.
"Bang, ini satu atau dua arah sih?"
"Dua arah, Sayang..."
Gw percaya dan langsung belok ke kanan, menyambut jalan baru yang kata abang dua arah. Alangkah kagetnya gw melihat semua mobil berjalan ke arah kami berdua. "Abang gimana nih? kok salah sih?" Semua mobil udah mulai jerit - jerit klakson sana - sini. Ada orang botak bawa mobil ngeliatin sinis banget ampe bola mata mau keluar. Gw ciut, tapi sebagai putri alumni SMA Taruna Nusantara yang telah diberi bekal kepemimpinan, gw harus bertindak cepat untuk memutar mobil kembali ke jalan yang benar. Syukurnya tidak ada polisi. karna kami gak punya SIM apalagi STNK. Gw ingat waktu itu muka abang udah panik banget. Gak tau mau ngapai selain megang pegangan di sisi mobil kencang - kencang. Alhamdulillah kami selamat, tapi nyasar entah kemana...

Sampai akhirnya tanpa diduga, sampailah kami di "Swiss Bell". "Yay! Kita masuk sini yah, sayang... " ujarku. Iya, deh! jalan - jalan. Dengan santai gw memasuki jalan landai yang gw kira bakal menuju ke tempat parkir. Karena agak mendaki, gw tekan gas lebih kencang. Dan ternyata... kekencangan... mobil kami cepat maju hampir menghatam mobil di depan. Gw kaget. Pandangan rasanya hitam semua. Gw pasrah.

Alhamdulillah (lagi). Kami selamat. Kaki gw secara otomatis atas bantuan Tuhan Yang Maha Esa, nginjak rem. Jarak dengan mobil di depan seuprit banget. Abang di sisi kiri gw tegang luar biasa, lebih tegang lahi ketika orang di mobil depan turun. 

Ternyata...

Dia mau turunin barang, bukan mau marahin kita. Dia gak tau ketegangan di mobil ini. Akhirnya abang bicara, "Sampai dingin kepala abang tadi, Dek... klo dede gak injek rem, gak selamat kita...". Aku masih bisa tertawa - tawa, melanjutkan perjalanan, tapi itu jalur malah membawa kami kembali keluar dari Swiss Bell. (*bego). Akhirnya aku memutuskan untuk parkir di Ruko sebelah saja. Dari pada harus mengulang kejadian itu dua kali.

Sesampainya di Swiss Bell kami main di Timezone dimana abang kalah main apapun. Beli J-co. Dan pamer - pamer cincin nikah pastinya...



Hari itu, gw bahagia luar biasa...
Dan yang lebih penting lagi, Alhamdulillah kami pulang dengan selamat...

Dear Syuami,
I Love you so much...
More than everyone... more than everything...
-Istri-
Share:

3 komentar:

rinz said...

kok baru diceritain sekarang k? beneran tuhh ga ada yang nanya-nanya? hahahahahaha... *usil*

Dea Hanifah said...

astaga,,ngakak bener baca ni post Shell :)) :))

Mershelly Syanel said...

@Rinz
Ahahahahahahaaa... tiba2 baru keinget sekarang

@tEH dEA
Ahahhahaha... :D