18.2.11

Meraih Bulan

Bismillahirrahmanirrahim...

Kendatu sendiri. Terduduk di pojok kamarnya dengan laptop yang menempel di pangkuannya. Mengacuhkan radiasi laptop terhadap rahim. Begitulah Kendatu, gadis keras kepala yang asyik dengan dunianya sendiri. Tiada hari tanpa bercinta dengan laptop 'butut'-nya itu. Laptop butut itu segalanya, diganti dengan Mac Book pun dia belum tentu mau. 

Oiya, aku belum perkenalkan Kendatu pada kalian. Kendatu adalah gadis tercantik yang pernah aku lihat. Kulitnya langsat, tingginya sedang, matanya bulat, berwarna coklat dengan bulu mata yang lentik, pipinya chubby, tubuhnya langsing. Dari wajahnya, kita bisa melihat ketegaran dan optimisme. Kendantu introvert, tapi punya banyak teman. Kendatu menikah dengan seorang pria yang dipilih oleh hatinya. 

Hari ini, Kendatu menangis dalam hati, tapi tak ada airmata. Meski samar, baru saja Kendatu mendengar suaminya bertelpon ria entah dengan siapa,berbicara di telpon dengan riang gembira, pakai kata "aku" dan "kamu". Kendatu tahu, itu telpon dari seorang wanita. Setelah telepon pagi itu, suaminya pergi, tak tahu kemana, tak memberi penjelasan, dan tak mengajak Kendatu sama sekali. Tak membawa cincin pernikahan mereka. Bagi Kendatu, itu kemarahan yang jelas. 

Kendatu berusaha mengingat - ingat salah apa yang dia lakukan seharian ini hingga suaminya begitu dingin hari ini. Sebuah penyalahan diri yang besar, Kendatu menyalahkan laptopnya. Menyalahkan dirinya yang tak menyiapkan sarapan, menyalahkan tidurnya yang panjang karena bergadang, menyalahkan mata kuliah yang memberinya tugas penuh tantangan. Kendatu menyalahkan semuanya. Saat ini. Kendatu memejamkan mata, berusaha tenang, tak bisa. Kendatu menyanyi lagu rock keras - keras dan itupun tak mampu menyeretnya keluar dari rasa gundah.

Dan satu memori yang entah dari mana datangnya, menghampiri Kendatu siang itu. Kendatu  tiba - tiba ingat papanya. Kendatu ingat mamanya. Pernikahan orang tuanya yang menyisakan luka menganga di hati Kendatu. Sudah perih, disiram cuka, seperti itulah rasanya. Kendatu melihat depan matanya, bagaimana papa-nya meninggalkan ibu-nya begitu saja, di malam penuh murka. Saat itulah Kendatu tahu 'talak', tahu 'perceraaian', tahu 'tamparan', dan sefinisi yang semakin samar tentang 'cinta'. Hari ini, Kendatu merasa menjadi ibunya, ditinggal pergi di pagi hari penuh murka, bedanya, Ia tak tahu salah apa.

Mengapa Kendatu menikah? alasannya sederhana. Meski membenci 'cinta', Dilubuk hatinya yang dalam, dia mempercayai 'cinta' itu ada. Dia percaya 'cinta' akan membawa kebahagiaan besar padanya. Cinta akan mengenyahkan 'masa lalu pilu yang meninggalkan luka menganga itu'. Tapi hari ini, Ia dihinggapi ambivalen tentang cinta itu lagi. Ia terhempas ke 'luka' yang seperti dikorek tanpa ampun.

Kendatu menggigil, bukan kedinginan. Wajahnya pucat, bibirnya mengering. Berusaha melangkah ke meja belajarnya. Menggapai - gapai kertas dan pulpen. Ia ingin menulis sesuatu. Pesan.

******
Suami Kendatu pulang, tak langsung masuk ke dalam kamar, mungkin malas melihat istrinya. Ia menonton Televisi dulu. Membuat kopi dulu. Makan 'tengah' malam dulu. Lalu ketika kantuk datang, barulah ia menuju ke kamarnya. Kendatu terlihat tidur, senyum dibibirnya, seolah dia mimpi indah malam itu. Suaminya melepaskan jam tangan dan meletakkannya di meja belajar. Matanya terusik oleh selembar kertas dengan tulisan jelek, namun bisa dibaca. Seperti bukan tulisan Kendatu.

Sayangku... Surgaku, Cintaku, Suamiku...
Ada apa denganmu hari ini, mungkin hanya Tuhan yang punya jawaban... Sebenarnya kita bisa menyelesaikan semuanya andaisaja kamu mau berbagi apapun denganku. 'Apapun' sayang, bukan yang terindah saja.
Hari ini aku merasa telah menyelesaikan semuanya. Ada suara yang seolah - olah memanggilku pulang, tapi aku belum merasa tenang. Jadi aku menulis ini, karena sepertinya aku tak bisa menunggu sampai kamu pulang ke rumah...

 Sayangku... Surgaku, Cintaku, Suamiku... 
Aku pergi dulu ya... Aku ingin Surga, tapi bagaimanalah bisa aku kesana karna kamu begitu marahnya padaku. Dengan marahmu itu, malaikat mampu menyeretku kasar - kasar ke nerakka. Aku tak tahu kemana suara ini memanggilku, tapi aku mohon... berilah ridha-mu untukku. Aku tahu, tak ada yang baik dariku... Tapi kamu bisa mengingat beberapa 'hal' yang membuatmu pernah ridha padaku...

Aku selalu mencintaimu, tak peduli semarah apa, dan secemburu apa...

Istrimu yang payah,
Kendatu Sarah

*****
Tanah makam masih merah. Matahari menyengat tanpa ampun. Suami kendatu duduk memegangi Nisan yang masih baru. Orang - orang lalu lalang kembali pulang, mengucap bela sungkawa pada suami Kendatu. Sampai bosan telinganya mendengar ucapan 'bela sungkawa' itu. Sampai hanya tinggallah Ia sendiri. 
"Ken... aku ridha... Aku selalu mencintaimu, tak peduli semarah apa, dan secemburu apa... Sampai jumpa lagi, Ken... Sampai jumpa di pernikahan yang abadi, nanti..." ucap suaminya lirih.

Saat itulah awan - awan menutupi matahari. Makam Kendatu meneduh seketika. Seolah 'tiket' surga untuk Kendatu itu 'terpamer' di bumi. Kendatu melayang - layang di dunia tak berdimenisi, tak berwujud, tak berwaktu, tak terjangkau. Kendatu memandang penuh cinta suaminya yang masih duduk di dekat pusaranya. Tersenyum cantik sekali...

-TAMAT-
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cerpen Karya : Mershelly Syanel
18.02.11
Share:

0 komentar: