14.2.11

Hilangnya Satu Aktor Dalam Ekosistem


Berikut cerita pengantar dariku...
"Kwek! Kwek! Kwek!!!" Aku berteriak, meronta - ronta sekuat tenaga. Tapi manusia - manusia ini seolah tidak pernah mengerti. Bagaimana cara menjelaskan pada mereka, bahwa kami-pun ingin hidup tentram seperti mereka. Tidak berakhir mati terkena 'cairan hitam' yang aneh, di kurungan, di dapur, atau meja santap siang mereka. Mungkin bagi manusia, ini hanyalah masalah mengisi perut, tapi bagi kami ini masalah hidup dan mati.
Kakiku diikat pada sebuah pohon bersama anak - anakku. Beberapa meter di depan mataku, Istriku dipegang erat - erat oleh dua manusia. Yang satu mencengkram erat kakinya, yang satu lagi mencengkram leher dan menutup paruhnya. Siap menyembelih istriku dengan pisau yang berkilau terkena sinar matahari. Aku menutup mata anak - anakku. Mereka tidak boleh menyaksikan ini, meski pedih sekali, aku lihat pembantaian itu dengan mata kepalaku sendiri. Darahnya menetes memenuhi tanah dibawahnya. Aku ternganga dan pasrah melihat itu semua, sepertinya nasibku dan anak anakku tak akan jauh berbeda. Aku benci manusia!

"Psssttt... bebek - bebek pergilah..." Aku melihat ke belakang, seorang anak kecil berbisik sambil membukakan tali ikatan yang mengikat kakiku dan kaki anak - anakku. "Cepat pergi bebek..." ujarnya lagi setengah berbisik. Aku berlari bersama anak - anakku. Para penjagal tadi pergi entah kemana membawa istriku yang telah mereka sembelih. 'Tidak semua manusia itu kejam', ujarku membatin. Aku dan anak - anakku segera berlari menuju rumah kami di hutan, di sungai sebelah timur.

Sesampainya di Sungai, aku terkejut. Air sungai itu hitam dan airnya lengket. Ditepi sungai, aku menemukan sehelai surat daun. Dari kerabat bebek yang tinggal di sungai ini juga.

------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kepada,
Saudaraku Mentok Rimba

Aku tak akan berbasa basi, aku harap kau dan keluargamu mengungsi secepatnya ke sungai lain seperti kami. Aku tidak main - main. Tak jauh dari sungai ini, manusia sedang membangun 'sesuatu', aku tak tahu namanya, yang jelas itu seperti sebuah sangkar yang besar sekali. Sangkar manusia yang sangat besar. Setiap hari, dari bangunan itu mengalir air yang kotor, lengket, dan bau. Aku tulis surat ini, karna kau tak kembali juga dari kemarin siang. Sementara aku dan keluargaku harus cepat mengungsikan diri ke sungai lain. Aku harap kau membaca surat ini dan segera mengungsi juga.


Pesanku, cepatlah pergi dari sungai ini! Karena saudara kita dan ikan - ikan banyak yang mati akibat 'air aneh' itu. Kita tidak bisa tinggal lebih lama di sungai ini.


Salam,
Saudaramu

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kakiku lemas, aku memandangi sungai yang kini telah hitam dan berminyak dengan keputus-asaan. Kemana aku harus membawa diri dan anak - anakku pergi. Seolah ajal mengepung dikanan - kiri kami. Di ujung sungai aku melihat kepulan asap meninggi dari 'sangkar manusia'. yang saudaraku informasikan. Asap itu menyesakkan dan memedihkan mata.

"Ayah, itu paman Mentok Coklat!" Seru salah satu anakku sambil menunjuk bebek yang  hanyut, tegang, dan kaku diantara 'cairan hitam' dan minyak - minyak berbau busuk itu. Satu lagi saudaraku mati... Ulah siapa? Siapa yang harus kusalahkan? aku tak tahu. aku memeluk anak - anakku dan berjalan tanpa arah. Berharap masih ada suatu tempat yang 'layak' untuk kami bertahan hidup.

Namaku Mentok Rimba, masih berasal dari keluarga bebek. Jumlah bebek sepertiku tinggal sedikit sekali, aku tak punya banyak saudara. Aku dan keluargaku tinggal di hutan ini, lebih tepatnya lagi di sungai sebelah timur. Sungai ini bak syurga bagiku dan keluargaku. Di pagi hari, sinar matahari langsung dengan lembut menyapa kami yang berenang - renang di sungai ini. Pantulan sinarnya seperti kemilau permata tersembunyi di dasar sungai. Aliran sungainya tenang, tidak ada buaya disini. Ikan - ikan kecil hilir mudik melawan arus, terkadang laba - laba air lalu lalang di sungai ini. Airnya  juga segar dan jernih sekali. Kecipak air bagai  melodi alam yang menenangkan. Sungai ini telah diwariskan secara turun - temurun dari generasi ke generasi Mentok Rimba. Nenek moyangku memang hebat! Dan manusia, telah membuat 'kehebatan nenek moyangku' itu tak ternikmati oleh anak - cucuku kelak. Sungai itu kini berubah, syurga itu kini hanya sebuah kenangan dan dongeng untuk generasi bebek kelak.

Andai aku manusia, dengan akalku akan kubuat segalanya hidup beriringan, berdampingan, serasi, dan selaras. Karena ini bumi Tuhan. Dan siapapun tak berhak memporak - porandakannya. Andai aku manusia, dengan hati nuraniku, aku harus mampu melestarikan semua titipan Tuhan... Andai aku manusia...
Cerita diatas adalah sepenggal memori masa kecilku. Namaku Kendatu, Dalam cerita diatas, aku adalah anak kecil yang melepaskan tali yang mengikat kaki bebek - bebek itu. Aku seolah terlahir sebagai karma bagi ayahku. Ayahku adalah seorang pemburu satwa ilegal, sementara aku adalah pencinta satwa yang aktif dalam berbagai kegiatan perlindungan satwa. Aku berusaha melestarikan satwa, sementara ayahku seperti membabat habis eksistensinya. Sesuatu yang tidak seimbang, melestarikan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Sementara membunuh, hanya membutuhkan beberapa detik saja.

Sedari kecil aku melihat bagaimana ayahku memburu dengan sadis berbagai macam satwa yang ia temui, kemudian menjual atau mengambil kulit, bulu, dan dagingnya. Tidak sedikit yang mati beku dengan 'air keras' dan dipajang di ruang keluarga dan ruang tamu. Tak jarang aku pernah melihat hewan yang meneteskan air mata sebelum dibunuh atau diberi 'air keras', salah satunya penyu. Ada semacam perih di hati melihat air mata itu, walau ayahku seringkali membela diri dengan mengatakan bahwa itu air mata alamiah, bukan air mata sedih atau takut. Tapi bagiku tidak. Aku yakin hewan - hewan itu menangis ketakutan dihadapkan dengan pisau runcing seperti yang dimiliki ayahku.

Mentok Rimba, adalah salah satu jenis bebek yang terancam punah. Dalam status konservasi, Mentok Rimba sudah masuk dalam katagori "EN" atau Endanger yang dalam  IUCN Red List berarti memiliki resiko tinggi untuk punah di masa yang akan datang. Mentok rimba bukan satu - satunya satwa yang terancam punah, masih banyak yang lain, masih banyak lagi status yang lebih parah, bahkan sudah memasuki punah. Sebagian besar eksistensinya diputus oleh manusia, walau ada juga yang memang tak mampu bertahan terhadap perubahan iklim, suhu, global warming berbagai faktor lain. Tapi kalau kita putar sejenak, bukankan polusi, global warning, dan berbagai tetek bengeknya itu merupakan ulah kita juga, manusia? 

Kita tahu, setiap makhluk hidup dalam ekosistem, dan dalam ekosistem itu, setiap satwa memiliki perannya masing - masing dalam rantai makanan. Dalam jangka pendek, mungkin kita belum bisa menemukan dampak dari punahnya 'satu peran' dalam rantai makanan. Dalam jangka panjang, 'hilangnya satu aktor' itu bisa menjadi efek domino yang akan mem-punahkan 'aktor lainnya'. Dalam kasus ini, aktornya adalah satwa - satwa itu, atau bisa juga kita?

Tiap individu dari kita bisa melakukan sesuatu yang kecil, tapi bermakna. Tidak perlu langkah besar untuk melestarikan satwa - satwa itu.  Menanam pohon adalah langkah kecil berupa sebuah hadiah dalam bentuk pemberian habitat bagi mereka, para satwa.

Perlu berapa banyak satwa yang harus bernasib sama dengan Mentok Rimba? Harimau Sumatra? Maleo? Sempatkah anak cucu kita menikmati, atau untuk sekedar 'tahu' dan mengenal satwa - satwa itu?
Share:

0 komentar: