5.6.10

Nimbus

Bismillahirrahmanirrahim...

Pernah tertawa keras - keras, tapi air matamu malah menetes? bahkan ketika tertawa lebih keras, air matamu menderas?
"Laughing so hard it hurts like hell"

Aku bahkan menertawakan diriku sendiri malam ini dengan segala kebodohan yang telah aku lakukan. Dulu. Dulu sekali aku pernah berkata pada diriku sendiri, tak akan pernah mencoba berubah menjadi seseorang yang orang lain senangi. Sekarang. Detik ini tanpa kusadari, aku benar - benar melakukannya. Berusaha menekan diri demi orang yang disuka demi menyenangkan hatinya. Atau mungkin mendapat simpatinya?

Aku merasa menjadi orang paling munafik sedunia. Membuang diriku sendiri yang menemaniku 19 tahun, dan menukarnya dengan topeng baru. Berusaha berubah lebih baik? memang. Tapi demi siapa? bukan demi diriku sendiri.

Aku bukan patung pahatan. Bukan gaun Pre order. Bukan lukisan hasil pesanan gambar. aku adalah figur yang telah terukir sediakalanya seperti itu oleh-Nya. Aku merasa seolah aku batang pohon, namun aku tak menerima takdir menjadi batang. Aku berharap terpahat menjadi boneka. Ah, entahlah dan itu bukan aku.

Aku. Sama seperti gadis lain yang memuja dongeng romantis tentang cinta. Kebahagiaan dan segala pernak - perniknya. Mengharapkan kesempurnaan manusia dari seluruh keterbatasannya.

Tapi lihat kali ini, bahkan aku malu melihat dunia. Aku bahkan malu pada diriku sendiri yang tak teguh. Cengeng.

Tapi satu hal yang kuakui. Meski teman - teman menggambariku dengan sosok yang tegar. Aku sunggu renta! Aku menangis. Aku mengeluh. Aku terlamun lama. Terkadang seringkali aku berharap ada bahu ayahku disini. Untuk sekedar bersandar, "Papa... shelly takut..." tapi aku tak berarah. Kebingungan bersandar pada kayu yang lapuk.

Hari ini, setelah 3 atau 4 bulan yang lalu. Tepat di tetesan air mata pertama. Papa menelfon. Syukurlah aku masih mengenali suaranya. Meski kudiamkan, jauh disudut hatiku aku merindukan papa. Dalam sekali sampai setiap malam kusadari, bagian yang hilang dari hari - hariku adalah papa. Tapi tak pernah mau kuakui. Hatiku malu.

Papalah satu - satunya orang yang mempercayai ceritaku tentang lelaki yang dengan sampai hati mengkhianatiku. Papalah satu - satunya yang menghinanya dengan kata "Brengsek!". Papalah satu - satunya yang membiarkanku memilih tanpa materi.

Iya, papa. Dibalik segala kekurangannya...
Papa yang menghabiskan malam sampai pagi berbagi cerita denganku...
Papa yang membangunkanku tengah malam untuk sekedar memintaku menemaninya makan...
Papa yang mengkhawatirkan siklus menstruasiku yang tidak lancar...
hahahaha... papa...
Share:

0 komentar: