30.5.10

Stereotip-ku

Bismillahirrahmanirrahim.... 

Kejadiannya begini. Aku masuk lift. Berdiri paling belakang di dalam sana. Di sudut lebih tepatnya. Orang - orang berpenuh sesak tak peduli menggencet satu sama lain. Pemuda di depanku ini, melihatku makai hijab. Dia kaget dan maju sedikit. Mungkin dia mecoba tak bersentuh denganku sedikitpun. Atau aku terlalu berpositif thinking? Mungkin juga karena aku yang udah cemberut melihat tasnya dengan 'sopan' menubrukkan diri tepat di mukaku *ouch

Benar, gedung ini hanya 4 lantai. Tapi kalau telat, 4 lantai bukan hal biasa. Aku sendiri meski di lantai 4, slalu naik tangga. Biasanya. Tidak. Hari ini tidak biasa jadi aku pakai lift. Harus! Tidak berdosa kan skali - skali naik lift!

Ting! Lift berhenti. Dimana? LANTAI 2! Dan yang turun. SATU orang. Aku kesal. Kenapa dia tidak naik tangga saja? Rasanya ingin kutanya, apa kakinya terkilir atau apa? sampai cuma satu lantai aja harus naik lift yang cuma SATU2nya dan KECIL itu?

Baiklah, itu bukan masalah. Aku diam. Tidak biasanya aku mendiamkan hal yang tidak aku senangi. Kali ini, beruntunglah orang itu tak ku tegur. 

Sangat Tiba - tiba. 2 orang paling depan memulai percakapan.
"Lw kenal gak ama cewek yang pake jilbab, trus pake rok mulu, tapi sepatunya kets!". Kata si orang pertama.
"Oh, tau gue! yang sering cemberut itu bukan? Anak kelas G kan kalau gak salah? Dia sekelas gw pelajaran metlit". Kata si orang kedua.
"Wah, gw gak tau dia kelas mana. Cakep sih... cuma koq mukanya gitu yaa??". Kata si orang pertama.
"Knapa mukanya?"tanya si orang kedua.
"JUTEK. ABIZZ" jawab si orang pertama dengan nada sinetron

Aku. Masih berdiri di belakang. Di sudut. Dengan gigi yang udah beradu dalam mulut. Gemeretuk. Aku yang GeeR atau apa?tapi aku yakin mereka ini sedang membicarakan aku. Siapa lagi? Siapa lagi!!"

Ting! Lantai 4. Dua orang paling depan itu keluar lebih dulu. Aku juga. Bilang permisi langsung nyelongsor keluar lift. Langkah cepat. Menyusul dua orang yang membicarakanku ini. Berhenti di depan mereka. Menatap satu persatu lamat - lamat. Mereka kaget. Kaget yang menggelikan kali kalau aku tidak sedang marah. Tapi ini beda kasus. 

"Eh?" Kata orang pertama.
"Habislah kau, A**... orangnya se-lift ama kita" Gumam orang kedua ke orang pertama.

Aku masih menatap lamat - lamat. Ntah dengan ekpresi seperti apa. Sejenak aku menarik nafas panjang. "Haruskah aku merusak pagiku dengan memaki - maki dua orang ini?" ujarku dalam hati. Ah, tidak. Kali ini, setelah orang yang turun di lantai dua tadi, aku tidak mau memperburuk "pagi-ku".

"Lain kali hati - hati" Ujarku pada dua orang itu sambil berlalu.

"Mati kau A**!! makanya! hati - hati! orangnya marah tuh!" dari jauh aku dengar teriakan orang kedua ke yang pertama. disertai bunyi gak jelas. Mungin sebuah 'tepukan di bahu'

WHAT A DAY!
Share:

0 komentar: