19.5.10

“Kredo, Nurani, dan Passion Menjawab Paradoks Komitmen dan Tanggung Jawab Berorganisasi”

Bismillahirrahmanirrahim....

Sedikit lagi setelah saya menandatangi formulir pendaftaran organisasi X ini, maka genaplah saya membuat persetujuan bahwa saya berkomitmen dan bersedia bertanggung jawab atas segala konsekuensi mengikuti organisasi X. Selesai? Tidak. Paradoks? Iya. Mungkin. Pardoks yang definitif sekali.
Anda mungkin berpikir sebuah komitmen dan tanggung jawab adalah hal terpenting dalam keanggotaan suatu organisasi. Ya, saya juga sependapat. Tapi nanti dulu! Bagaimana paradoks dari sebuah komitmen dan tanggung jawab itu? itulah yang paling penting. Jalan keluarnya bagaimana? Ini hanya masalah kredo.
Paradoks adalah keadaan dimana timbul pernyataan yang diakui kebenarannya, tapi berujung pada suatu kontradiksi. Dalam kasus ini, kontradiksi pernyataan dan kenyataan. Sebuah tanda tangan dan tindakan nyata.
Paradoks ini kesalahan siapa? Tidak jelas benar apa yang menyebabkan Paradoks sebuah komitmen dan Tanggung Jawab dalam organisasi ini terjadi. Cuaca? Perang Irak? Kemalasan? Pengkhianatan? Organisasi sendiri yang kurang merangkul ‘si saya’? Atau ‘Si Saya’ yang memang tak ingin berkomitmen?
Bukan salah siapa – siapa. Paradoks ini terjadi akibat ketidakseimbangan simbiosis mutualisme antara ‘si saya’ dan ‘organisasi’. Ini hanya masalah kredo, nurani dan passion. Penandatanganan dalam sebuah formulir bukan berarti menyanggupi komitmen dan tanggung jawab melainkan sebuah pendeklarasian niat. Bahwa ‘si saya’ setuju dan menginginkan menjadi bagian dari organisasi X. Selebihnya peran organisasi jauh lebih besar. Hampir sama dengan karyawan dalam suatu perusahaan. Tuntutan kerja berbanding lurus dengan kompensasi. Dalam kasus ini, rasa nyaman dan prestasi yang selanjutnya bakal diikuti dengan komitmen dan Tanggung Jawab ‘si saya’. Komitmen dan Tanggung Jawab berbanding lurus dengan rasa nyaman dan prestasi.
Penyelesaiannya melalui kredo, Nurani, dan Passion. Tak hendak membela diri bahwa komitmen dan tanggung jawab harus bermula pada kesanggupan suatu organisasi merangkul anggotanya. Tapi benar begitulah adanya. Komitmen dan tanggung jawab tidak akan lahir tanpa rasa ‘nyaman’ berada dalam organisasi tersebut.
Jalan tengah dari semua ketidakjelasan ini adalah saya menandatangani formulir ini dengan kredo, yang sejatinya merupakan pendeklarasian bahwa “Saya percaya pada organisasi X”. Menjalankan keanggotaan dengan nurani, jika saya diterima menjadi anggota. Dan passion dalam mengikuti kegiatan. Komitmen dan Tanggung Jawab akan terbukti setelahnya. Setelah saya mendapat timbal balik hasil cipta kredo, nurani, dan passion yang saya dedikasikan.

Mershelly Syanel - MBTI G
Share:

0 komentar: