28.5.10

Dealing With Rejection

Bismillahirrahmanirrahim...

"Kak Shelly, saya sebel banget dikampus! anak - anaknya pada resek banget. Gak mau nerima pendapat saya! Gak mau kompromi. Macam - macamlah! belum lagi mereka suka gosipin saya yang enggak - enggak! nyebelin banget deh! BETE" -Adikku si Cantik-

Pernah ngerasa terbuang? Ditolak? Gak diterima? Dikucilkan? Ditidak-peduli-kan?
Di sekolah? atau mungkin di kampus? atau dikantor?

Hampir semua orang pernah ngalamin kejadian gak diterima dilingkungan baru. Tak terkecuali saya? Dilingkungan tertentu misalnya. Tapi 19 tahun ini saya sudah cukup belajar gimana cara "Break The Ice" Iya, cara mecahin es. Supaya mencair. Indeed. Supaya keadaan disekitar benar - benar cair dan cukup memberi rasa nyaman.

"Lho? emang rasa nyaman penting? gw mah sebodo amat ama orang - orang". Eits, saya juga begini ini, tapi kita hidup ama orang lain. Kemanapun pergi, kita bakal bertemu dengan 'serupa kita' tapi berbeda jiwa. Orang lain.

Cara yang tebukti ampuh saya lakukan 2 tahun ini di kampus. Iya, saya baru bisa 'beginian' setelah 2 tahun. Sampai saya bikin formula sendiri ketika berinteraksi dengan orang lain.

Prinsip 1: "Orang lebih suka didengarkan, dari pada mendengarkan"
Saya, adalah orang yang paling cerewet dikeluarga, atau di orang - orang terdekat saya. Sebaliknya, saya menjadi orang yang cenderung lebih banyak diam dan mendengarkan ketika di lingkungan yang cenderung orangnya tidak banyak saya kenal.
Saya menerapkan prinsip ini ketika diberi tugas kelompok di kelas yang bukan kelas saya. Otomatis saya gak kenal ama siapapun kan? Ketika ada tugas kelompok, apalagi dalam lingkungan remaja, setiap anak pasti ingin mengeluarkan pendapatnya. Berkoar panjang lebar tentang ide briliannya. Anak yang lain gak mau kalah, ngeluarin opini yang lebih mantab lagi. Ehm ujungnya malah bentrok.
Saya dari tadi mulai cuma diem dan menganalisa dalam hati. Mengorak - arik jalan tengah dalam diam. Memutar - mutar isi kepala. Bukan untuk beropini, tapi menyatukan dua pendapat yang saling kontra itu. Saya ambil jalan tengah. Dan mengutarakan dengan 'polos'. Dan... It works!

Prinsip 2 : "Gak ada orang yang suka digurui dengan sepantarannya. Jadi, nyatakan sesuatu dengan Polos"
Iya, kecuali kamu punya kharisma tersendiri dan wibawa tersendiri. Ini beda kasus. Sayangnya saya gak punya. Klo punya, itu akan lebih mudah membuat orang tersihir dengan apa yang anda bicarakan.
Eits, prinsip ini udah saya terapkan ketika saya harus mempresentasikan mata kuliah yang belum diajarkan. Sebagai pengantar. Di depan, saya benar - benar berusaha bersikap sebagai seorang teman yang bercerita tentang mengapa ini bisa jadi begini. "Bercerita" bukan "Memberi tau". Gimana saya tahu presentasi saya sukses? Saya presentasi bukan di kelas saya, tapi dikelas yang orangnya tidak saya kenal. Setelah saya presentasi saya kaget karena banyak yang menghampiri saya dan bilang "Shelly, yang tadi itu gini ya maksudnya?", "Kalau ini dari mana?". Wah, saya senang. Knapa senang? Saya senang karena telah membuat teman saya nyaman bertanya pada saya.
Padahal banyak temen saya yang lebih memilih diam, dari pada nanya. prinsipnya, "Yah... ntar belajar sendiri aja deh!"

Hindari penggunaan kalimat berikut :
"Ngerti kan maksud saya?" --> Hey... kalimat ini merendahkan orang lain. Kecuali anda dosen. Atau orang yang punya jabatan lebih. Atau lebih tua.
"Salah! bukan gitu!" --> Siapa yang senang disalahkan di depan umum?


Prinsip 3: Selalu siap ketika diminta
Orang yang selalu siap ketika dimintai tolong, adalah namanya akan selalu terpikir pertama kali ketika orang - orang lagi dalam masalah. Bukan sok pahlawan. Tapi otomatis, ladang pahala bakal jadi banyak setiap harinya! =D

Semoga bisa membantu *Ting! ;)
Share:

0 komentar: