23.5.10

Cengeng

Bismillahirrahmanirrahim....

Rasanya luka. Di dalam. Gak peduli gimanapun aku sangat ingin mengobatinya, aku gak punya cara menemukan lukanya. Aku punya perban, tapi bagian mana yang mau diperban? Tapi ketika kulihat di cermin. Aku terlihat sangat berdarah - darah. Perih. Bau anyir dimana - mana. Mual. Sampai aku mau muntah. 

Bahkan untuk kali ini. Aku gak membiarkan air mataku jatuh, walau setetespun. Mendongak tinggi - tinggi sampai sesuatu terasa mengganjal di tenggorokan. Aku menolak untuk menangis. Seperti biasanya. Seperti beberapa tahun yang lalu. Celak jalan keluarnya. Jadi setiap kali aku ingin menangis, aku bakal ingat kalau celakku bakal luntur. Jadi aku tidak akan menangis.

Lagi. Aku berada di sudut ruangan. Di dekat pintu. Pintu yang terkunci rapat. Musik hingar bingar membahana di kamar. Jadi, biarpun aku menangis sampai sesenggukan, itu bakal baik - baik saja. Siapa yang mendengar? Siapa yang tahu kalau aku tak benar - benar menyukai musik rock kecuali hanya sebagai peredam suara. Siapa yang tahu.

Ada bintang. Satu. mengerdip centil padaku. Ku balas senyum simpul dan dia hanya datang menghampiriku. Duduk disampingku. Seolah menyuruhku bercerita. Bagaimana bintang tahu aku sangat membutuhkan seseorang untuk mendengarkanku? Oh, tidak... bintang bukan "seseorang", baiklah... "sesuatu". 
"Hey bintang, kukira kau bercahaya?" tanyaku.
"Tidak, aku hanya memantulkan si cantik bulan"
"Bagaimana kau bisa semulia itu?"
Bintang hanya tersenyum. Tak menjawab.
"Tidurlah, menangis membuatmu lelah bukan? tidurlah... semuanya akan baik - baik saja..."
Share:

0 komentar: