4.5.10

1:03 AM Disaat Amigdala Null

Bismillahirrahmanirrahim....

Kali ini biarlah pikiran menjadi sebuah kata. Biar ia tak berontak saja di dalam sana.
Tapi sekalipun hendak di transormasikan ke dalam kata, mulut hanya bisa bungkam.
Tak berani berkata banyak. Bukan kelu, tapi tertahan.
Menyalahkan hati yang bertindak seenaknya
mengolah rasa yang sangat indah sampai - sampai tak terjangkau kamus bahasa manapun
Dasar hati! Pandai sekali menipu logika melebur prinsip.

Duhai... malam ini sama seperti kemarin...
kenapa malam selalu diam dalam gelap,
mengapa bulan tak protes,
Entah apa jadinya kalau tak ada bintang,
Tuhan memang Kuasa, sudah meramalkan malam untukku kali ini
dihadiahi-Nya aku bintang agar tak sepi,
agar gelap bukanlah menjadi 'hantu' yang menakutkan

Hey bintang, beritahu aku kalau anda - anda sekalian hendak pulang,
pamit - pamitlah dulu, jangan seperti malam - malam kemarin...
Menyebalkan melihat anda - anda menghilang begitu saja

Malam ini aku berharap apa?
Aku hanya berharap bisa tidur. Itu saja, bolehkah?
Ah, malam ini terasa panjang, apapun yang kukerjakan terasa melamban satu atau dua jam

Mata... ayolah terpejam...
biar besok, bisa kulalui hari tanpa kantuk,
itupun kalau Tuhan bermurah memberiku satu hari lagi...
Umur, siapa yang tahu rahasia ini?

Huss... jangan berisik...
mama sedang terlelap... jangan membuat beliau terbangun.


Hhhh... insomnia lagi....
Share:

0 komentar: